Aku sudah hidup sangat damai, sejak bagian yang paling tidak mengenakkan itu menyiksa neuron-neuron memori aku, aku sudah bisa bangun, aku sudah melihat hidup dalam sisi lain, sisi yang jauh lebih semarak. Aku sudah bergerak maju. Sangat maju, bahkan jika harus melihatmu bersama dia – Lelaki yang sebelumnya kamu abaikan, namun akhirnya kamu cintai-, aku pun sudah siap.
Tidak ada lagi galau untuk semua itu. Tapi tidak jika dengan tiba-tiba kamu datang lagi tiba-tiba menjadi baik lagi seperti sebelum menghinatiku. Seolah-olah kamu ingin memperbaiki kesaslahanmu lalu meminta maaf dan mengajakku kembali.
Entah ini karena kesalahan apa, Namamu tiba-tiba muncul di barisan daftar orang-orang yang aku panggil "teman" di barisan yang aku pikir begitu privat. Entah, kenapa kemudian nama kamu muncul di sana. Ingatan aku terakhir, dan aku yakin, aku sangat sadar, nama kamu sudah tidak ada di sana. Ya, karena aku sudah menghapusnya atau jika aku boleh meminjam istilah jejaring sosial itu, nama kamu sudah aku "block"
Aku Tidak Membencimu, Hanya Saja Sudah Tidak Ada Hak Bagimu Untuk Peduli Padaku
Bukan atas nama dendam, bukan, hanya saja, aku tidak ingin kamu tahu kabarku. Aku tidak ingin kamu tahu sebahagia apa aku sekarang. Setelah apa yang kamu lakukan, dan setelah semua rasa sakit yang bertubi-tubi, tidak ada hak lagi untukmu memastikan aku bahagia atau tidak. Dan kalaupun ada porsi kamu untuk itu ku ucapkan 'Terimakasih' aku tidak butuh. Silahkan ambil dan bawa pulang sendiri. Bukan kamu, bukan kamu yang aku butuhkan.
Bukan Kamu yang Aku Butuhkan Tapi Dia yang Membantuku Mampu Melupakanmu
Sekarang aku sudah bisa tanpamu dan bahkan aku lebih baik dari dirimu, kini yang aku butuhkan tidak lagi kamu tetapi dia. Seseorang yang telah mampu membantu bangkit kembali dari keterpurukan saat ditinggalkan olehmu. Aku sudah bahagia dengannya, aku khawatir hadirmu hanya akan mengurangi rasa bahagiaku sekarang. Aku takut hadirmu kini adalah bencana dalam hidupku.
Kamu Jelas Akan Menang Bila Bersaing Dengannya Untuk Memenangkan Hatiku Kembali
Kita sudah lama ada dalam satu rasa sudah jelas kamu adalahlah orang yang paling mengerti diriku, kamu adalah orang yang paling tahu bagaimna diriku. Aku juga masih bisa membayangkan indahnya di bahagiakan oleh dirimu. Segalanya tentang sesuatu yaang membuatku tertawa dan nyaman kamu adalah orang yang paling tahu dibanding dengan dia.
Jelas dia tidak ada apa-apanya jika dibandingkan denganmu, tidak tidak bisa melakukan apa yang dilakukan olehmu padaku termasuk dalam hal menyakiti diriku. Yang dia tahu hanyalah bagaimana mengobati diriku dari sakitnya dihinati olehmu, yang dia tahu adalah membuatku tidak apa-apa jika aku tanmu bahkan jika hanya sendiri saja.
Jika Harus Jujur Aku Tidak Mengingkari, Kehadiranmu Kini Masih Tetap Membuat Hatiku Berdebar
Aku tidak mau berdusta pada perasaan ini, benar kamu masih tetap bisa membuat hatiku berdebar. Hanya saja tidak seperti dulu saat sebelum penghinatan itu terjadi, saat sebelum segala dusta mulai kamu lakukan hanya demi orang yang kamu kejar itu.
Benar kamu memang mendebarkan hatiku tapi itu tak membuatku tergoda untuk kukejar agar hati ini berhenti berdebar. Jika aku bisa jujur mengaku kalau hariku masih berdebar saat kamu hadir kembali bukankah wajar jika aku percaya diri mengatakan dia bisa menggantikanmu.
Belajarlah Mengakui Kamu Menyesal Telah Melepaskan Sesuatu yang Kamu Anggap Tidak Berharga Dulu
Karena terlalu banyak membandingkan, kamu sampai-sampai lupa melihat aku, seseorang yang kamu anggap tidak ada apa-apanya. Kini setelah aku menjadi milik orang lain, setelah kaamu tahu rasanya dicintai oleh orang lain dengan cara yang tidak seperti kamu bayangkan, tiba-tiba kamu datang kembali pada diriku.
Kamu sudah lelah menimbang-nimbang antara perhatianku dan dia bukan? makanya kamu kembali datang seolah-olah ingin memberitrahuku jika dulu kamu khilaf. Tapi maaf aku lebih memilih seseorang yang saat ini bersamaku.
Aku Tidak Ingin Melukainya Tolong Pergilah, Menjauhlah Sejauh Mungkin Seperti yang Kamu Inginkan Dulu
Aku takut kemunculanmu itu hanya akan melukainya, aku sangat takut dia cemburu padamu walau hanya secuil saja meski sebenarnya aku sudah tidak ada apa-apanya lagi dengan dirimu.
Bukankah kita sudah berakhir, jika masih ingin berteman maris tetap berteman tanpa harus saling menyapa dan meninggalkan jejak kemuculanmu meski itu hanya tanda like untuk postingaku di sosial media. Aku tidak ingin dia melihatnya mari hanya sama-sama saling mengaggap teman dalam hati saja. Tidakkah itu adil bagimu yang lebih dulu mengingkaari hubungan ini.
Share this:
- Click to share on Twitter (Opens in new window)
- Click to share on Facebook (Opens in new window)
- Click to share on Google+ (Opens in new window)
Related
sumber : duapah
