Manusia tak pernah luput dari dosa, mungkin itu adalah ungkapan yang tepat untukku. Bayangkan saja, ada banyak kesalahan yang aku lakukan setiap harinya. Dan sering membuat orang-orang di sekitarku jengkel dan selalu mengguruiku seakan-akan mereka yang paling benar. Padahal aku juga pasti punya sisi baik yang dapat dibanggakan. Benar kata pepatah, Karena Nila Setitik, Rusak Susu Sebelanga. Satu kesalahanku merusak seluruh kebaikanku di matamu. Hari ini yang kau lihat kesalahanku saja.
Aku Manusia yang Penuh Dengan Kekhilafan
Terkadang aku melakukan sesuatu yang tidak sengaja atau tanpa kusadari membutmu sakit hati. Padahal awalnya aku berpikir dengan melakukan itu, aku bisa membantu dan membuat kamu senang. Tapi sayangnya, entah caraku yang salah, atau memang kamu yang tidak mengerti maksudku. Kamu berpikir aku salah dan berniat menyakitimu.
Bukan Salahku Jika Kamu Tak Mengerti Maksudku
Aku berusaha sebaik mungkin menyampaikan apa yang ingin aku sampaikan dengan baik kepadamu. Aku berbicara dengan bahasa yang sama, yang dimengerti oleh kamu dan aku seperti biasanya. Tapi entahlah, aku jadi bingung kenapa kamu masih saja salah paham dan tak mengerti ucapanku. Apakah aku harus menggunakan bahasa alien agar kamu mengerti?
Bukannya Aku Tak Suka Komentarmu, Tapi Terlalu Banyak yang Mengguruiku Hari Ini
Kamu tahu, aku seperti dipasung dihadapan keramaian, lalu setiap orang yang melihatku satu per satu menyalahkanku, lalu mengguruiku sesuka hati. Mereka berbicara sesuka hati, dan tak peduli bagaimana perasaanku. Mereka tidak bisa merasakan air mataku, mereka lupa bahwa aku juga manusia biasa yang akan tersakiti jika terus dipojokkan. Aku juga butuh ruang untuk bernapas. Ketika aku butuh perhatianmu, kamu malah bersikap sama seperti mereka.
Semua yang Kulakukan Mungkin Kesalahan, Tapi Aku Tetap Berusaha Memperbaikinya
Saat kamu mulai menggerutu aku pun menangis. Lag-lagi aku harus berusaha menerima bahwa dalam pertengkaran ini akulah yang salah. Aku berusaha menekan sekuatnya rasa egoku dan menerima bahwa aku satu-satunya yang salah. Tapi yakinlah, aku selalu berusaha memperbaiki diri sebaik menurutku.
Kesempatan Itu Selalu Ada, yang Terpenting Kamu Mau Memberikannya Atau Tidak
Aku selalu percaya bahwa setiap orang tidak pernah terlambat untuk meminta maaf, tidak pernah terlambat untuk memiliki kesempatan baru yang lebih baik untuk mereka. Tapi tetap saja, itu pun tergantung dari kamu. Kamu mau memberikan kesempatan lagi kepadaku atau menutup diri dan selalu menyalahkanku.
Cobalah Berpikirlah Sedikit Tentang Hati dan Perasaanku
Jika memang kamu masih punya rasa cinta di hatimu padaku. Ketuklah kembali rasa cinta itu dan lihatlah mataku yang merah karena menangis. Cobalah sebentar untuk diam dan peluk aku dengan erat. Dan biarkan aku menangis dipundakmu. Ada terlalu banyak beban di pikiranku. Kumohon, aku membutuhkanmu bukan untuk ikutan mengguruiku. Aku membutuhkanmu karena aku butuh sandaran. Untuk menangis dan meluapkan seluruh keluh kesahku.
Ini Bukan Pembelaan Tapi Permohonan, Kamu Sadar Aku Hanya Manusia Biasa
Sudah cukup semua orang menyalahkan aku termasuk kamu. Sekarang aku mohon pergilah dan tinggalkan aku sendiri untuk sementara waktu. Ada banyak hal yang menyakitiku tanpa mereka sadari, begitu juga kamu. Mungkin saja kamu menganggap itu untuk kebaikanku, tapi tidak semua yang baik meurutmu baik bagi aku.
Karena yang Baik Untukmu Mungkin Tak Baik Untukku
Aku tahu motivasimu untuk menjadikanku manusia yang lebih baik versi kamu sendiri. Semua untuk kebaikanku. Tapi apakah kamu yakin, yang baik versi kamumu itu juga akan baik menurutku? Menurutku tidak, itu semua belum tentu baik dalam versiku. Aku punya keyakinan sendiri, aku tidak bisa dipaksa untuk menjadi ini dan menjadi itu sesuka hatimu (sekali pun itu dalam kebaikan). Aku punya banyak hal yang harus aku selesaikan sendiri. Iniah hidupku, kamu hanyalah orang yang aku perbolehkan masuk, tapi tidak untuk merenovasi didalamnya.
Jadi Stop Ceramahmu yang Membosankan Itu, Atau Aku Akan Melangkah Pergi
Apakah kamu sadar? Betapa membosankannya ceramah kamu itu. Apalagi kau menunjukkan sikap seolah-olah kamulah yang paling benar dan yang selalu salah. Hingga saat ini mungkin aku masih kuat dan masih mau mendengarkan semua hal membosankan ini. Tapi jujur saja, kamu tak pernah memujiku dan selalu mengguruiku. Dan suatu saat ketika aku sudah tak tahan lagi, mungkin aku akan melangkah pergi.
Share this:
- Click to share on Twitter (Opens in new window)
- Click to share on Facebook (Opens in new window)
- Click to share on Google+ (Opens in new window)
Related
sumber : duapah
