Seorang laki-laki memilih untuk memiliki perempuan yang ia cinta dengan cara yang paling tidak kau (wanita) sangka. Kau akan dibuat berpikir ulang tentang makna cinta yang selama ini telah kau kenal
Menulis dalam diam. Menulis sembari menangis-tanpa suara. Entah kenapa menulis seperti satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk meluapkan suluruh rasa sakit hati ketika tidak ada satupun yang (saya rasa) dapat mengerti rasa sakit saat itu. Tapi, selain menulis, cara lain yang dapat dilakukan adalah berdiam diri; sendiri, merenung kemudian menghayal. Menghayal jika saja cerita ini lebih indah. Menhayal jika saja yang terjadi tak seburuk ini. Menghayal sesuatu yang terjadi tak seburuk yang terjadi dan lebih indah tentunya. Kadang hal itu bisa saja menghabiskan waktu sampai berjam-jam hanya untuk sekedar berhayal. Meski sudah tahu apa yang sudah terjadi tidak akan bisa merubah kenyataan yang ada, setidaknya hal itu bisa membuat pikiran tidak merasa gerah dan sesak. Dan perih dapat hilang meski hanya sesaat.
Lalu, mendengar musik. Mungkin ini adalah cara terakhir yang spontan. Ketika sudah suntuk untuk menulis dan menghayal pun menjadi berat, memutar musik yang sesuai, bahkan semua lagu yang terputar rasanya sesuai dengan keadaan hati. Sehingga hal itu dapat mengungkit segala apa yang telah terjadi kemudian diam tanpa bisa merenung, hanya saja air mata yang mengalir mengiringi alunan lagu. Entah apa alasan jelasnya, tapi yang pasti dengan melakukan beberapa hal tersebut, gundah dan rasa nyeri di hati dapat hilang meski hanya sesaat.
Begitulah kira-kira ……………………… (buntu)
Cinta adalah Fi'il Madhi (begitulah istilah dalam ilmu shorrof). Dia dimakan tahun, dihabisi oleh senja, tetapi tetap saja bertahan untuk tak menua. Cinta adalah Fi'il Madhi, tema itu-itu saja yang terus mengabadi dalam cerita. Kau bisa menemukan cinta dalam cerita paling tua, ditiap belahan bumi mana saja. Cinta seperti terserak dan setiap orang memungutnya dengan bahagia. Dari dongeng naif Cinderella, kisah tak sudah Rama dan Sita, hingga cerita panjang tentang Paris dan Helene dalam perang Troya, kau menemukan pemicu yang sama, cinta. Mitologi dari seluruh dunia, cerita rakyat dari seluruh pelosok-pelosok tak bernama, semua mengirimkan kisah yang sama Fi'il Madhinya.
Namun, kau juga tahu itu benar—yang dikatakan orang-orang—bahwa cinta tak melulu tentang langit biru dan matahari yang teduh. Cinta bukan hanya gula-gula manis dalam mimpi kanak-kanak. Dan, tak sekadar tentang berjalan bersisian dengan hati berirama bersahutan. Cinta mampu menjelma gulita, sampai kau merasa sesak karena tak bisa menebak arahnya. Dan, tentu saja, cinta sering kali malah membuatmu menyesali akan keberadaannya. Cinta akan membuat hatimu patah sehingga melihat warna saja kau akan merasa susah.
Lalu, bagaimana kau melewatkan hari saat cintamu tak juga sampai? Saat hatimu memilih untuk terus patah? Apakah kau akan tetap memaksa memiliki cintamu dengan cara apa pun? Mungkin, kau menginginkan dirimu menjelma sebatang pohon, yang menyetia sepanjang musim, menunggu cintamu kembali untuk sekadar menyapa. Seperti cinta, hati yang patah bisa juga membuatmu bergerak ke segala arah, melakukan hal-hal yang selama ini tak pernah kau sangka.
Dan, hati yang patah, jantung yang berdebar dengan rasa nyeri adalah paket yang kau terima saat kau berani untuk jatuh cinta.
Seperti itulah yang ditawarkan Bara dalam buku terbarunya. Sekumpulan kisah cinta dengan sekumpulan hati yang bersiap kapan pun patah. Bara, meski mengangkat tema—yang kita sebut itu-itu saja—mampu mengajak pembaca larut dalam emosi ditiap-tiap ceritanya. Ini kali pertama saya bekerja sama dengan Bara, dan dengan senang hati saya bilang, saya terpesona dengan cara bertuturnya. Bara menunjukkan kalau cara bertuturnya adalah cara bertutur seseorang dengan latar membaca yang banyak. Pilihan katanya bernafas, menunjukkan kalau ia adalah seorang pembelajar yang rajin. Penulis yang terbuka dengan jenis bacaan apa saja. Ia menyerap, lalu mengeluarkannya lagi dalam cerita yang tak kalah menarik. Begitulah bukan seharusnya seorang penulis yang baik? Menyimpan informasi yang ia baca, mengendapkannya, lalu mengeluarkannya dengan caranya sendiri.
Dalam buku Jatuh Cinta Adalah Cara Terbaik untuk Bunuh Diri, Bara akan menyuguhimu cinta dengan berbagai metafora. Namun, hati-hatilah karena dalam ceritanya ini, kau juga akan berkali-kali merasa patah hati. Ya patah hati, patah hati yang sama seperti saat kau merasa jantungmu berdetak dalam rasa nyeri, dengan kenangan yang menerormu setiap hari. Dan, rindu yang ingin kau gerus karena terus memanipulasi hati. Namun, itu risiko saat kau ingin bicara cinta, bukan?
Bara membuatmu memilih untuk jatuh cinta dengan berbagai alternatif cara. Dalam "Orang yang Paling Mencintaimu", seorang laki-laki memilih untuk memiliki perempuan yang ia cinta dengan cara yang paling tidak kau sangka. Kau akan dibuat berpikir ulang tentang makna cinta yang selama ini telah kau kenal. Sementara, dalam "Seribu Matahari untuk Ariyani," kau menemukan kisah sedih dalam cinta yang paling setia. Kau akhirnya tahu bahwa setia dan cinta tak akan selalu berjalan beriring bersama. Dan, jangan lewatkan, "Seorang Perempuan di Loftus Road,"—seorang perempuan yang bisa saja mungkin menjelma dirimu. Berhari-hari menghabiskan harap dan tanya, hanya untuk menunggu cintamu menyapa. Cinta memang kadang membuatmu menyedihkan, bukan?
Beberapa orang percaya, saat patah hati, kau akan menulis lebih banyak. Saya pun juga percaya itu. Patah hati membuatmu bisa produktif dan kadang-kadang menemukan cerita yang semula tak tampak saat kau jatuh cinta. Saya tak tahu, dan tak bisa menebak, apakah Bara sedang patah hati saat menulis kisah-kisah cintanya. Namun, jelas ia sangat produktif dan itu membuat bukunya terasa bercita rasa dan kaya.
Untuk dia yang telah berlalu
Masih terselip bayangmu
Dalam ingatanku
Tawa dan canda itu belum pupus dimataku
Kau masih hidup dalam ingatanku
Ku tunggu engkau tuk kembali walau entah kapan
Karna masih ada sesuatu yang harus kau tau dariku
Tentang cinta yang belum sempat ku ungkapkan
Tapi sungguh…
Bisikan angin itu bohong
Kau belum pulang
Kau masih hidup
Karena masih nampak jelas bayangmu dalam ilusiku
Ciputat, 15 April 2016
Share this:
- Click to share on Twitter (Opens in new window)
- Click to share on Facebook (Opens in new window)
- Click to share on Google+ (Opens in new window)
Related
sumber : duapah
